Detail Cantuman
Advanced Search
Text
REHABILITASI MANTAN PECANDU NAPZA DI YAYASAN STIGMA
ABSTRAK
“Rehabilitasi Mantan Pecandu Napza di Yayasan Stigma”
Narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (NAPZA) banyak
disalahgunakan dan mengakibatkan banyak dampak negatif di
masyarakat. Untuk kembali memulihkan dampak negatif napza
pada diri seseorang dapat dilakukan dengan proses rehabilitasi
yang didampingi oleh seorang konselor. Konselor menggunakan
pendekatan komunikasi antarpribadi dengan mantan pecandu
napza (klien) untuk membantu klien lepas dari jerat napza.
Komunikasi antarpribadi salah satu tujuannya adalah merubah
sikap, perilaku dan pandangan orang lain. Dari latar belakang
tersebut maka penulis tertarik membahas masalah tersebut.
Untuk menjawab latar belakang masalah di atas penulis
menggunakan pertanyaan mayor dan minor. Pertanyaan
mayornya adalah Bagaimana komunikasi antarpribadi dalam
rehabilitasi napza di yayasan STIGMA? Sedangkan pertanyaan
minornya adalah apa faktor penghambat komunikasi antarpribadi
dalam rehabilitasi napza di yayasan STIGMA?
Supaya peneniltian ini menjadi terarah dan fokus, maka teori
yang menjadi acuan penelitian ini adalah teori Penetrasi Sosial
yang dikembangkan oleh Altman dan Taylor. Teori penetrasi
sosial menjelaskan bahwa hubungan komunikasi manusia
berkembang menjadi lebih dekat seiring dengan semakin
banyaknya informasi yang dibagikan lawan komuikasi. Dalam
teori Penetrasi Sosial terdapat tahapan-tahapan hubungan dari
yang awalnya tidak intim menjadi intim. Yaitu: 1). Orientasi; 2).
Penjajakan afektif; 3). Pertukaran afektif; 4). Pertukaran stabil.
Dalam program rehabilitasi di Yayasan STIGMA konselor dan
klien menjalani tahapan perkembangan hubungan. Pertemuan
yang terus terjadi perlahan-lahan membangun hubungan dan
menimbulkan rasa kepercayaan klien kepada konselor. Konselor
juga perlahan mengenal kliennya secara personal dan profesional.
Sehingga klien dapat lepas dari jerat napza yang menjadi tujuan
utama dari program rehabilitasi tersebut.
Hambatan bisa berasal dari komunikator atau dari komunikan
seperti penyampaian yang tidak dimengerti, gagap budaya, pesan
yang ambigu, atau gangguan dari lingkungan sekitar. Hambatan
juga sering kali tejadi pada saat proses decoding dan encoding.
ii
Dalam rehabilitasi napza hambatan paling banyak ditemukan di
diri klien, yaitu: pengaruh zat adiksi klien yang sudah parah,
motivasi klien untuk sembuh naik turun atau tidak stabil, klien
yang pendiam, dan pendapat klien yang suka berubah-ubah.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah komunikasi merupakan
proses yang sangat penting untuk membuat klien lepas dari jerat
napza melalui rehabilitasi. Perkembangan hubungan yang terjalin
dan keterbukaan akan rasa percaya menjadi hal penting untuk
dapat membantu mengarahkan klien tidak lagi menggunakan
napza dan dapat diterima ke dalam kehidupan masyarakat.
Kata kunci: Napza, Komunikasi Antarpribadi, Rehabilitasi,
Penetrasi Sosial, dan Perkembangan Hubungan.
Ketersediaan
| K2085 | R5878 MOH r KPI | Perpustakaan Fak. Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Skripsi) | Tersedia |
Informasi Detil
| Judul Seri |
--
|
|---|---|
| No. Panggil |
R5878 MOH r KPI
|
| Penerbit | Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Jakarta : Ciputat, Jakarta., 1441 H/ 2020 M |
| Deskripsi Fisik |
vi, 67 hlm,; 26 cm.
|
| Bahasa |
Indonesia
|
| ISBN/ISSN |
--
|
| Klasifikasi |
5878
|
| Tipe Isi |
-
|
| Tipe Media |
-
|
|---|---|
| Tipe Pembawa |
-
|
| Edisi |
-
|
| Subyek | |
| Info Detil Spesifik |
-
|
| Pernyataan Tanggungjawab |
-
|
Versi lain/terkait
Tidak tersedia versi lain






