Detail Cantuman
Advanced Search
Text
Analisis Semiotika Foto Pada Buku Tanah Yang Hilang Karya Mamuk Ismuntoro
ABSTRAK
Dwinda Nur Oceani
1112051100039
Analisis Semiotika Foto pada Buku Tanah yang Hilang Karya Mamuk
Ismuntoro.
Foto dokumenter menjadi medium yang begitu relevan untuk menyampaikan
sebuah realita sosial. Dalam hal ini, yaitu tragedi besar luapan Lumpur Lapindo di
Sidoarjo yang terjadi pada tahun 2006, sebuah bencana non alamiah akibat campur tangan
manusia atas lingkungan. Berangkat dari tragedi tersebut seorang fotografer dokumenter
Mamuk Ismuntoro membuat catatan visual berupa buku foto Tanah yang Hilang. Karya
tersebut hadir atas keresahannya sebagai warga terdampak. Selamat tujuh tahun ia
mendokumentasikan gambaran atas kehidupan sehari-hari masyarakat dan lansekap
kondisi, situasi desa terdampak.
Dengan latar belakang di atas, muncul pertanyaan apa kandungan makna denotasi
dan konotasi yang terkandung dalam foto-foto Mamuk Ismuntoro? Apa makna mitos
yang terkandung dalam foto-fotonya? Ketiga tahap pemaknaan tersebut terkait bagaimana
kondisi area desa dan keadaan masyarakat terdampak, pasca terjadinya luapan Lumpur
Lapindo yang menenggelamkan beberapa desa di Sidoarjo dalam foto yang dibuat oleh
Mamuk Ismuntoro.
Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivis dengan pendekatan
kualitatif. Dalam penelitian ini foto-foto yang dikaji menggunakan metode analisis
semiotika Roland Barthes. Metode analisis ini menekankan pada makna denotasi,
konotasi, dan mitos yang dimaknai oleh penulis dengan memperkaya temuan maknanya
terkait hak-hak korban luapan Lumpur Lapindo yang terenggut.
Dari penelitian ini dapat dilihat makna denotasi yakni gambaran bagaimana
situasi desa-desa terdampak yang terendam dan kondisi masyarakat pasca luapan Lumpur
Lapindo. Dari analisa makna konotasi terungkap bahwa foto-foto karya Mamuk
Ismuntoro dalam buku Tanah yang Hilang menggambarkan kemuraman dan ingatan akan
masa lalu yang telah sirna. Hal tersebut dapat dilihat dari dominasi warna foto dan pose
subyek foto yang menghadap ke arah kiri. Serta gambar lansekap dan kehidupan seharihari
masyarakat memperlihatkan rasa kehilangan atas sesuatu yang dimiliki dahulu.
Dalam analisa makna mitos yang terbangun, diketahui bahwa apa yang terjadi di area
terdampak luapan Lumpur Lapindo ialah tentang hilangnya kehidupan sosial, hak-hak
dasar sebagai manusia, juga keputusasaan yang dilatarbelakangi oleh kemusnahan.
Dalam hal ini peran penting negara pun sirna diakibatkan adanya kepentingan orang yang
berkuasa.
Kata kunci: Lumpur Lapindo, Semiotika, Makna, Foto, Tanah yang Hilang
Ketersediaan
| j630 | 5437 DWI a JURN | Perpustakaan Fak. Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (SKRIPSI) | Tersedia |
Informasi Detil
| Judul Seri |
-
|
|---|---|
| No. Panggil |
5437 DWI a JURN
|
| Penerbit | Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Jakarta : Ciputat, Jakarta., 1440 H/ 2018 M |
| Deskripsi Fisik |
xiii, 103 hlm,; 29 Cm.
|
| Bahasa |
Indonesia
|
| ISBN/ISSN |
-
|
| Klasifikasi |
5437
|
| Tipe Isi |
-
|
| Tipe Media |
-
|
|---|---|
| Tipe Pembawa |
-
|
| Edisi |
-
|
| Subyek | |
| Info Detil Spesifik |
-
|
| Pernyataan Tanggungjawab |
-
|
Versi lain/terkait
Tidak tersedia versi lain






