Detail Cantuman
Advanced Search
Text
Pola Komunikasi Antarbudaya masyarakat lintas agama dalam menciptakan harmoni di Desa Bagoang Bogor
Jika pada umumnya suatu daerah ditempati oleh adat atau suku yang sama, lain
halnya dengan Desa Bagoang. Masyarakat di Bagoang memiliki beragam budaya dan
agama, diantaranya suku sunda dan tionghoa yang terbagi dalam tiga penganut agama
yaitu islam katholik dan konghucu. Keragaman tersebut tak menyurutkan Desa Bagoang
sebagai desa yang memiliki nilai toleran yang tinggi. Oleh karenanya, penelitian ini
dilakukan untuk lebih menjelaskan bagaimana harmoni antara masyarakat dapat terjalin.
Berdasarkan konteks diatas tujuan penelitian ini ialah untuk menjawab pertanyaan
inti dan turunan. Adapun pertanyaan mayornya ialah, bagaimana masyarakat antarbudaya
dan lintas agama menciptakan harmoni di Desa Bagoang. Adapun pertanyaan turunannya
ialah bagaimana gambaran masyarakat di Desa Bagoang, Bagaimana pola komunikasi
masyarakat di Desa Bagoang, Apa saja faktor pendukung dan penghambat dalam
menciptakan harmoni antarbudaya dalam masyarakat lintas agama di Desa Bagoang.
Dalam penelitin ini, peneliti akan lebih membahas mengenai Face Negotiation
Theory yang dikembangkan oleh Toomey. Teori ini menjelaskan perbedaan-perbedaan
budaya dalam merespon konflik. Lebih jelasnya, Ting Toomey menggambarkan teori ini
mengenai bagaimana peranan wajah dan identitas dalam komunikasi antarbudaya,
terutama dalam situasi memecahkan masalah.
Masyarakat mengelola keharmonisan diantara mereka terlihat dari bagaimana
mereka memecahkan suatu masalah dan faktor-faktor yang akan menjadi penghambat dan
pendukung didalamnya. Karena perilaku yang berbeda diantara masyarakat dalam
menyikapi masalah dapat menimbulkan gaya komunikasi antarbudaya yang berbeda pula.
Pada penelitian ini, penulis merumuskan teori mengenai bagaimana harmoni dapat
terjalin diantara masyarakat melalui menejemen konflik kehidupan antarbudaya dalam
budaya kolektivis yang didalamnya membahas mengenai avoiding atau cara menghindari
konlik, compromising yakni mencari jalan tengah, obliging yakni mengalah pada lawan,
Avoiding yaitu menghindari konflik, sedangkan integrating ialah mengikutsertakan pihak
lain dan Third Party Help yaitu penanganan konflik dengan bantuan pihak ketiga.
Masyarakat Desa Bagoang menjalin keharmonisan dan menjunjung rasa hormat dan
toleran yang tinggi terhadap suku maupun penganut agama lain. Karena rasa
persaudaraan yang tinggi dan menejemen konflik yang baik. Selain itu rasa kekeuargaan
dan sikap yang bersama-sama dan bersatu dalam memecahkan konflik membuat
masyarakat Desa Bagoang menjadi masyarakat yang makmur tanpa konflik yang
berkepanjangan.
Di Desa Bagoang komunikasi yang terjalin antara masyarakat yang berbeda suku
dan agama begitu sering. Tidak ada jarak ataupun pemisah yang membedakan mereka.
Pola komunikasi yang terjalin dalam menciptakan harmoni yaitu dengan cara berunding
atau kompromi, yakni mencari jalan tengah dalam sebuah masalah dan menghindari
konlik diantara salah satu pihak, agar masalah tidak berkepanjangan. Tidak sedikit faktor
yang menentukan terhambat dan tidaknya pemecahan suatu permasalaan yang untuk
menciptakan harmoni. Karena dalam menciptakan harmoni sendiri memiliki
ketergantungan situasi yang berbeda-beda maupun masyarakatnya.
Kata Kunci : desa, bagoang, harmoni, dan masyarakat
Ketersediaan
| k1781 | 5196 END p KPI | Perpustakaan Fak. Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (skripsi) | Tersedia |
Informasi Detil
| Judul Seri |
-
|
|---|---|
| No. Panggil |
5196 END p KPI
|
| Penerbit | Fak. Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi : Jakarta., 1439 H/2018 |
| Deskripsi Fisik |
69 hlm.
|
| Bahasa |
Indonesia
|
| ISBN/ISSN |
-
|
| Klasifikasi |
5196
|
| Tipe Isi |
-
|
| Tipe Media |
-
|
|---|---|
| Tipe Pembawa |
-
|
| Edisi |
-
|
| Subyek | |
| Info Detil Spesifik |
-
|
| Pernyataan Tanggungjawab |
-
|
Versi lain/terkait
Tidak tersedia versi lain






