Detail Cantuman
Advanced Search
Text
Representasi makna budaya ungkapan rasa syukur dan merawat calon penganten perempuan pada tradisi piara dan tangas:studi etnografi adat pernikahan betawi
ABSTRAK
Nurfaizah Amaliah
1113051000128
Representasi Makna Budaya Ungkapan Rasa Syukur dan Merawat Calon
Pengantin Perempuan pada Tradisi Piara dan Tangas (Studi Etnografi Adat
Pernikahan Betawi)
Tradisi piara dan tangas pengantin merupakan tradisi kebudayaan yang ada
dalam upacara pernikahan adat Betawi. Tradisi ini lazim dilakukan oleh
masyarakat Betawi sebelum melangsungkan pernikahan. Seorang calon pengantin
wanita yang akan melaksanakan pernikahan akan dirawat dengan baik agar
terlihat cantik dan pangling di hari pernikahan. Tradisi piara dan tangas pengantin
menarik untuk diteliti, karena dalam setiap tradisi yang dijalankan dalam sebuah
kebudayaan memiliki makna yang tersirat yang hendak disampaikan kepada para
penggunanya.
Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan dan memahami makna dari
prosesi tradisi piara dan tangas pengantin yang dijalankan oleh masyarakat
Betawi. Maka rumusan masalahnya adalah bagaimana pola perilaku, kepercayaan,
dan bahasa dalam adat pernikahan Betawi? Bagaimana representasi budaya pada
tradisi piara dan tangas pengantin?
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan kualitatif dengan
metode analisis etnografi yang digunakan untuk menganalisis pola perilaku,
kepercayaan, dan bahasa kebudayaan yang digunakan masyarakat Betawi dalam
tradisi piara dan tangas pengantin. Etnografi bertujuan menguraikan suatu budaya
secara menyeluruh, yakni semua aspek budaya, baik yang material maupun yang
bersifat abstrak.
Dalam tradisi piara dan tangas pengantin, terdapat pola perilaku,
kepercayaan, dan bahasa yang digunakan oleh masyarakatnya. Oleh karenanya,
untuk mengetahui bagaimana ketiganya dilakukan oleh masyarakat Betawi,
penulis berupaya mempelajari kebudayaan Betawi dalam tradisi piara dan tangas
pengantin untuk menggambarkan, menganalisa, dan menafsirkan unsur-unsur dari
tradisi tersebut.
Setelah melakukan penelitian dan analisis data, hasil penelitian ini
menemukan bahwa pada masyarakat Betawi, sebelum sampai pada akad nikah,
mereka melewati beberapa tahapan yang biasa disebut dengan tahapan
ngedelengin, ngelamar, bawa tande putus, dan piare calon penganten. Piara calon
pengantin dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur karena telah diberikan
pasangan hidup. Oleh karenanya, tradisi ini dilakukan dengan tujuan merawat
calon pengantin perempuan agar terlihat cantik dan pangling di hari pernikahan.
Dalam piara calon pengantin, ada salah satu anjuran untuk puasa mutih dengan
tidak memakan gorengan atau makanan yang asin atau mengandung garam. Ini
dipercaya memiliki manfaat untuk calon pengantin saat di pelaminan. Hal ini
diakui benar bahwa dengan menjalani mutih, calon pengantin tidak banyak
mengeluarkan keringat yang berlebih di saat pelaminan.
Kata kunci: Tradisi piara dan tangas pengantin, masyarakat, Betawi, budaya.
Ketersediaan
| K1752 | 5097 NUR r KPI | Perpustakaan Fak. Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (skripsi) | Tersedia |
Informasi Detil
| Judul Seri |
-
|
|---|---|
| No. Panggil |
5097 NUR r KPI
|
| Penerbit | Fak. Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi : Ciputat, Jakarta., 1439 H/2018 |
| Deskripsi Fisik |
73 hlm.
|
| Bahasa |
Indonesia
|
| ISBN/ISSN |
-
|
| Klasifikasi |
5097
|
| Tipe Isi |
-
|
| Tipe Media |
-
|
|---|---|
| Tipe Pembawa |
-
|
| Edisi |
-
|
| Subyek | |
| Info Detil Spesifik |
-
|
| Pernyataan Tanggungjawab |
-
|
Versi lain/terkait
Tidak tersedia versi lain






