Detail Cantuman
Advanced Search
Text
Bahasa Istarat Indonesia Di Komunitas Gerakan Untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia
Penyandang tunarungu merupakan kelompok yang menggunakan bahasa
isyarat untuk berkomunikasi. Secara alami, kaum tunarungu memaksimalkan sisa
indra pada tubuh yang masih berfungsi secara maksimal untuk dapat menerima
respon dari luar tubuh mereka. Salah satu bentuk rangsangannya berupa informasi
bahasa yang dapat diterima melalui indra penglihatan. Selain itu, cara pemahaman
bahasa pada tunarungu berbeda dengan cara pemahaman pada orang normal. Salah
satu cara pembelajaran bahasa pada tunarungu adalah dengan memaksimalkan indra
penglihatan sebagai alat dalam menerima rangsangan informasi bahasa dan
penggunaan bahasa isyarat sebagai cara melatih komunikasi bahasanya.
Perbendaharaan kata dalam bahasa tidak dapat dijelaskan melalui pembelajaran
secara audio karena ketidakmampuan tuna rungu dalam mendengar. Rangsangan
informasi tersebut berupa visualiasi kata-kata ke dalam bentuk gambar-gambar
sebagai pengganti cara-cara audio pada orang normal.
Berdasarkan permasalahan di atas, penelitian ini akan menjawab: “Bagaimana
mengartikan isyarat bahasa kata tulisan ke dalam bentuk simbol?” dan “Adakah
persamaan gerakan dari Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) dengan bahasa isyarat
dari negara lain?” Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
semiotika dengan pendekatan kualitatif deskiriptif.
Adapun teori yang digunakan adalah teori Semiotika Ferdinand de Saussure.
Semiologi merupakan sebuah ilmu yang mengkaji tentang kehidupan tanda-tanda di
tengah masyarakat dan menjadi disiplin ilmu psikologi sosial. Tujuannya adalah
untuk menunjukkan bagaimana terbentuknya tanda-tanda beserta dengan kaidahkaidah
yang mengaturnya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam berkomunikasi dengan
menggunakan bahasa isyarat, peran ekspresi, gerak bibir, bahasa tubuh dan interpreter
sangatlah dibutuhkan. Tetapi selain dari hal-hal tersebut, upaya untuk mendalami dan
mempelajari bahasa isyarat pun menjadi hal yang penting untuk memperlancar
jalannya komunikasi antara individu tunarungu dengan individu normal. Selain itu,
bahasa isyarat dalam satu negara dengan negara lain sangatlah berbeda. Semua itu
tergantung dari latar belakang budaya masing-masing negara. Dengan adanya
BISINDO sebagai salah satu bahasa isyarat yang ada di Indonesia menjadi ciri kahs
tersendiri bagi budaya Indonesia yang tidak terdapat pada isyarat negara lain.
Kata Kunci : Semiotika,Bahasa Isyarat, BISINDO, BSL, Tunarungu dan
Komunikasi.
Ketersediaan
| J527 | 4937 DIY b JURN | Perpustakaan Fak. Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (skripsi) | Tersedia |
Informasi Detil
| Judul Seri |
-
|
|---|---|
| No. Panggil |
4937 DIY b JURN
|
| Penerbit | Fak. Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi : Ciputat, Jakarta., 1438 H/2017M |
| Deskripsi Fisik |
100 hlm.
|
| Bahasa |
Indonesia
|
| ISBN/ISSN |
-
|
| Klasifikasi |
4937
|
| Tipe Isi |
-
|
| Tipe Media |
-
|
|---|---|
| Tipe Pembawa |
-
|
| Edisi |
-
|
| Subyek | |
| Info Detil Spesifik |
-
|
| Pernyataan Tanggungjawab |
-
|
Versi lain/terkait
Tidak tersedia versi lain






