Detail Cantuman
Advanced Search
Text
Komparasi Framing Pemberitaan Kudeta Turki Pada Harian Sindo Dan Tempo
Pertengahan juli 2016 media massa dunia terfokus pada kasus yang
menimpa Turki. Percobaan kudeta yang dilakukan oleh sekelompok oknum
militer ini sempat menghebohkan Turki saat itu. Tidak butuh waktu lama media
massa dalam negeri ikut segera memberitakan kasus tersebut. Sindo dan Tempo
tercatat menjadi harian yang cukup update dalam memberitakan kasus tersebut.
Ihwal demikian, Sindo dan Tempo memiliki perbedaan dalam pengemasan berita.
Perbedaan yang ditemukan juga cukup signifikan pada bagian akhir masingmasing
berita.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka tujuan penelitian ini adalah
menjawab pertanyaan penelitian mengenai bagaimana harian Sindo dan Tempo
membuat framing pemberitaan kudeta Turki berdasarkan analisis framing Robert
Entman.
Paradigma penelitian ini adalah paradigma konstruktivis dengan
menggunakan riset kualitatif. Unit analisis yang peneliti ambil dengan observasi
teks, wawancara dan dokumen terkait. Riset kualitatif yang dilakukan peneliti
adalah menganalisa teks dan mengumpulkan data yang berkaitan serta
mengkonfirmasi hasil temuan dengan wawancara terhadap media terkait.
Untuk menjawab pertanyaan penelitian, teori yang digunakan adalah teori
konstruksi realitas sosial milik Peter L. Berger dan Thomas Luckman. Berger dan
Luckman mengatakan bahwa realitas dibentuk relitas objektif dan subjektif.
Adapun teknik analisa teks, penelitian ini menggunakan analisis framing Robert
Entman yang membagi sebuah wacana menjadi empat bagian; identifikasi
masalah, sumber masalah, evaluasi moral, dan penawaran solusi atas masalah.
Pasca kudeta Turki, koran Sindo melakukan framing pemberitaan kasus ini
dengan memaknai kasus kudeta sebagai musibah dan membangun simpati kepada
kondisi Turki saat itu. Sebagaimana Sindo pahami bahwa berita tersebut lebih bisa
diterima oleh pembacanya. Berbeda dengan Tempo yang membentuk framing
pemberitaan bahwa ada makna lain dibalik terjadinya kudeta. Tempo beranggapan
bahwa kudeta menjadi alat pengokoh otoriterisme kekuasaan pemerintah saat itu.
Keberpihakan media sangat ditentukan oleh ideologi yang dianut media. Jika
dimaknai lebih dalam, Sindo lebih mengedepankan pasar berita maka
mengutamakan kedekatan berita dengan pembaca. Berbeda dengan Tempo yang
kritis karena menganggap pemerintah Turki mulai otoriter dan menggerus
demokrasi. Setiap media melakukan upaya pembenaran terkait pemberitaan yang
mereka muat, tidak terkecuali Sindo dan Tempo. Penerimaan publik dengan
pembenaran atas framing yang dibentuk adalah tujuan dari media.
Kata kunci: Framing, Berita, Sindo, Tempo, Kudeta, Turki, Erdogan
Ketersediaan
| J516 | 4862 SYA k JURN | Perpustakaan Fak. Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (skripsi) | Tersedia |
Informasi Detil
| Judul Seri |
-
|
|---|---|
| No. Panggil |
4862 SYA k JURN
|
| Penerbit | Fak. Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi : Jakarta., 1438 H/2017M |
| Deskripsi Fisik |
69 hlm.
|
| Bahasa |
Indonesia
|
| ISBN/ISSN |
-
|
| Klasifikasi |
4862
|
| Tipe Isi |
-
|
| Tipe Media |
-
|
|---|---|
| Tipe Pembawa |
-
|
| Edisi |
-
|
| Subyek | |
| Info Detil Spesifik |
-
|
| Pernyataan Tanggungjawab |
-
|
Versi lain/terkait
Tidak tersedia versi lain






