Detail Cantuman
Advanced Search
Text
Lambang-Lambang Islam Dalam Bentuk Fisik Tokoh Wayang Purwa Gagrang Nanyumas
Penyebaran agama Islam ke tanah Jawa tidak bisa dilepaskan dari peran
para ulama yang dikenal dengan Walisongo. Dalam melaksanakan dakwahnya,
para wali menggunakan beberapa pendekatan agar ajaran Islam dapat diserap
dengan mudah oleh masyarakat. Salah satunya adalah dengan menggunakan
pendekatan kultural, memanfaat kesenian yang saat itu sedang digemari
masyarakat. Wayang Purwa merupakan salah satu sarana yang digunakan para
wali khususnya Sunan Kalijaga untuk mendakwahkan Islam kepada masyarakat
Jawa.
Masyarakat Jawa sangat kental dengan bentuk perlambangan yang sering
disebut dengan pralambang, pralampita, atau pasemon (sindiran). Caranya
dengan barang, gambar, warna, bahasa dan sebagainya. Salah satu dari sekian
banyak pralambang adalah apa yang disebut dengan “pralambang pakarti”
(tingkah laku). Kebiasaan masyarakat Jawa yang lekat dengan perlambangan ini
dimanfaatkan oleh para wali untuk memasukkan unsur Islam ke dalam
pertunjukkan Wayang Purwa.
Penelitian ini ingin mengetahui bagaimana lambang-lambang Islam dalam
Wayang Purwa, khususnya Wayang Purwa dalam gaya (gagrag) Banyumas.
Dengan metode analisis semiotik, penulis berusaha mengurai proses produksi
tanda dan pemaknaan terhadap lambang-lambang tersirat dalam bentuk fisik tokoh
wayang. Model semiotika yang dipilih ialah model semiotika Charles Sanders
Pierce (1839-1914). Dalam sistem penandaan Pierce, terdapat tiga hal penting
yang saling bertalian yaitu tanda (sign), acuan (referent/object) dan interpretan
(interpretant). Hubungan ketiganya tidak terhenti pada satu makna saja, tetapi
pemaknaan dapat berkembang atau berkelanjutan. Perkembangan ini disebut
proses semiosis.
Tokoh wayang yang dikaji dalam penelitian ini ialah tokoh Bawor dan
Werkudara. Keduanya dipilih karena dianggap sebagai simbol identitas
masyarakat Banyumas. Dari penelitian ini diketahui bahwa di dalam bentuk fisik
tokoh Bawor tersirat lambang-lambang Islam berupa: konsep tauhid, ulul albab,
wara,? keberanian dalam menyampaikan kebenaran dan sifat qonaah. Sedangkan
dalam tokoh Werkudara tersirat pelambangan: kesadaran sebagai hamba Allah,
sikap tawadu?, jujur dan teguh memegang janji, orang yang berilmu yang mampu
memberikan pencerahan, kuat melaksanakan shalat lima waktu serta mampu
mengendalikan nafsunya.
Kata Kunci: Wayang Purwa, Banyumas, Semiotika, Bawor dan Werkudara.
Ketersediaan
| K1670 | 4839 FEB l KPI | Perpustakaan Fak. Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (skripsi) | Tersedia |
Informasi Detil
| Judul Seri |
-
|
|---|---|
| No. Panggil |
4839 FEB l KPI
|
| Penerbit | Fak.lmu Dakwah Dan Ilmu Komunikasi : Jakarta., 1438 H/2017M |
| Deskripsi Fisik |
124 hlm.
|
| Bahasa |
Indonesia
|
| ISBN/ISSN |
-
|
| Klasifikasi |
4839
|
| Tipe Isi |
-
|
| Tipe Media |
-
|
|---|---|
| Tipe Pembawa |
-
|
| Edisi |
-
|
| Subyek | |
| Info Detil Spesifik |
-
|
| Pernyataan Tanggungjawab |
-
|
Versi lain/terkait
Tidak tersedia versi lain






