Detail Cantuman
Advanced Search
Text
Strategi Marginanalisasi Kelompok Di Wacana Editorial Tragedi Yang Memalukan Bangsa Pada Kolom Editorial Di Harian Umum Media Indonesia Edisi, 12 Juni 2013
Ada berbagai faktor penyebab yang mendorong seseorang untuk menjadi orang yang
bekerja di luar negeri meninggalkan tanah airnya. Menjadi Tenaga Kerja Indonesia atau yang
disingkat dengan sebutan TKI bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan tahapan-tahapan untuk
bisa berangkat dan bekerja di negara asing dengan berbagai perbedaan budaya yang ada di
dalamnya. Minimnya permintaan tenaga kerja di Indonesia salah satu penyebab banyak
orang yang memutuskan untuk menjadi TKI baik secara legal maupun ilegal. Dengan harapan
akan dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok bagi diri dan keluarga mereka (sandang,
pangan, papan dan pendidikan). Kepergian warga negara Indonesia ke luar negeri (ke negara
mana saja) dengan tujuan mencari pekerjaan di benarkan oleh UUD pasal 27 ayat (2) dan
perubahannya yang berbunyi “tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan
yang layak bagi kemanusiaan”. Oleh karenanya, warga negara Indonesia tidak dapat dilarang
untuk bekerja dimana saja, termasuk di luar negeri.
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, peneliti menggunakan analisis wacana model
Theo van Leeuwen pada sebuah Editorial Di Harian Umum Media Indonesia tentang sebuah
kasus kerusuhan yang terjadi di Jeddah, Arab Saudi (Edisi 12 Juni 2013), yang berjudul “
Tragedi Yang Memalukan Bangsa”. Konsep dasar dari Theo van Leeuwen secara umum
menampilkan bagaimana pihak-pihak dan aktor ditampilkan didalam pemberitaan. Ada dua
pusat perhatian metode, pertama proses pengeluaran (exclusion) hal ini berhubungan dengan
apakah dalam satu berita, ada kelompok atau aktor yang dikeluarkan dalam pemberitaan, dan
strategi wacana apa yang digunakan untuk itu. Kedua, proses pemasukan (inclusion) hal ini
berhubungan dengan bagaimana masing-masing pihak itu ditampilkan lewat pemberitaan.
Melalui analisis wacana model Theo van Leeuwen peneliti mendapatkan hasil:
pertama, dalam pemberitaannya harian Media Indonesia, dalam menyajikan konflik yang
terjadi antara para TKI dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) secara umum tidak
berimbang. Hal ini terlihat dari pemberitaan dimana para TKI terlalu di eksploitasi oleh
Media Indonesia. Kedua, Media Indonesia kurang membeberkan apa saja langkah yang sudah
dilakukan oleh pemerintah.
Dari hasil temuan tersebut, peneliti berkesimpulan bahwa Media Indonesia terlalu
fokus terhadap apa yang telah dilakukan oleh para TKI. Sehingga Media Indonesia secara
tidak langsung telah memarjinalkan para TKI. Dimana para TKI dicap sebagai pembuat onar,
pihak yang selalu disalahkan, dan tidak berpendidikan. Hal ini membuat pemberitaan tersebut
tidak cove both sides.
Media Indonesia dalam kasus ini terlalu menggunakan strategi exclusion terhadap
para TKI. Peneliti juga menemukan beberapa strategi inclusion terhadap pemerintah (KJRI)
namun bukan kinerja dari pemerintah yang diberitakan, melainkan bagaimana pemerintah
yang seharusnya ikut andil dalam kasus ini terlalu mencari kambing hitam. Sehingga kasus
ini berlarut-larut dan tidak terselesaikan dengan baik.
Kata kunci :
Wacana, TKI, Pemerintah (KJRI), Theo van Leeuwen
Ketersediaan
| J505 | 4883 DEV s JURN | Perpustakaan Fak. Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (skripsi) | Tersedia |
Informasi Detil
| Judul Seri |
-
|
|---|---|
| No. Panggil |
4883 DEV s JURN
|
| Penerbit | Fak.Ilmu Dakwah Dan Ilmu Komunikasi : Jakarta., 1438 H/2017M |
| Deskripsi Fisik |
72 hlm.
|
| Bahasa |
Indonesia
|
| ISBN/ISSN |
-
|
| Klasifikasi |
4883
|
| Tipe Isi |
-
|
| Tipe Media |
-
|
|---|---|
| Tipe Pembawa |
-
|
| Edisi |
-
|
| Subyek | |
| Info Detil Spesifik |
-
|
| Pernyataan Tanggungjawab |
-
|
Versi lain/terkait
Tidak tersedia versi lain






