No image available for this title

Text

Makna Tauhid Dalam Syair Kesenian Daerah :analisis Semiotika Sosial Pada Kesenian Badeng Garut



FATWA DIENUL HAQ NIM : 1112051000060 MAKNA TAUHID DALAM SYAIR
KESENIAN DAERAH (ANALISIS SEMIOTIKA SOSIAL PADA KESENIAN BADENG
GARUT) Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikasi,
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 1438 H/2017 M.
Kekayaan Indonesia salah satunya adalah beragamnya suku bangsa dan bahasa. Bahasa
dan budaya tidak hanya sebagai alat untuk berkomunikasi dengan satu sama lainnya, akan tetapi
juga digunakan sebagai alat menyebarkan kebaikan. Seperti yang dilakukan Sunan Kalijaga.
Beliau merupakan salah satu walisongo yang menggunakan pendekatan kebudayaan untuk
menyebarkan agama Islam. Salah satu bentuk pendekatannya yaitu melalui lagu-lagu yang
berbahasa daerah atau bahasa penduduk lokal. Perlu diketahui bahwa ada penyebar agama Islam
yang menggunakan cara yang sama dengan Sunan Kalijaga. Kesenian Badeng yang ada di desa
Sanding kecamatan Malangbong kabupaten Garut dulunya merupakan kesenian yang juga
digunakan sebagai alat dalam menyebarkan agama Islam. Kandungan dalam Syair perlu diteliti
lebih lanjut agar masyarakat awam mengerti dan memahami maksud dan tujuan dari kesenian
Badeng ini.
Syair dari kesenian Badeng ini menggunakan bahasa Sunda.Hal ini merupakan salah satu
kendala sulitnya kesenian Badeng ini dikenal oleh masyarakat luas. Tidak semua masyarakat
mengerti bahasa Sunda. maka perlu dilakukan penelitian lebih lanjut agar syair dapat dimengerti
oleh orang awam. Sedangkan tauhid merupakan salah satu ajaran pertama yang dilakukan oleh
para Rasul kepada umatnya. Maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana
makna teks dan makna tauhid dalam syair kesenian badeng dilihat dari segi medan wacana,
pelibat wacana, dan sarana wacana.
Maka metode penelitian yang digunakan adalah analisis teks dengan pendekatan analisis
semiotika sosial dari M.A.K Halliday. Analisis dengan menggunakan semiotika sosial dapat
membantu memahami teks dengan sebaik-baiknya. Hal ini dikarenakan teks dilihat dari segi
konteksnya. Dalam melihat konteksnya ini, dibantu dengan tiga konsep didalamnya yaitu medan
wacana, pelibat wacana, dan sarana wacana. Karena teks dilihat dari segi konteksnya, maka
secara tidak langsung dapat diketahui seberapa jauh teks itu menggambarkan kondisi atau situasi
tertentu. Oleh karena itu, analisis semiotika sosial cocok digunakan dalam meneliti syair dari
kesenian Badeng.
Dari hasil penelitian penulis, berdasarkan analisis semiotika yang menjadi medan
wacana dalam syair kesenian Badeng yaitu agar masyarakat desa Sanding percaya kepada
keberadaan Allah SWT dan Nabi Muhammad. Terdapat juga nasihat dan anjuran untuk
mengamalkan beberapa ajaran Islam. Adapun yang menjadi pelibat wacana yaitu nabi
Muhammad sebagai utusan Allah yang membawa ajaran agama Islam, masyarakat desa Sanding
serta sosok Kyai yang menjadi panutan. Adapun Sarana wacananya adalah kesenian Badeng itu
sendiri, serta syair menggunakan berbagai gaya bahasa dengan dominasi majas penegasan.
Penegasan untuk mempercayai Allah. Dalam makna teks Syair terdapat unsur-unsur dari
komunikasi intrapribadi dan antarpribadi. Kemudian terdapat tiga konsep tauhid dalam syair
kesenian Badeng. Ketiga konsep itu adalah tauhid ulluhiyah, tauhid rubbubiyah, dan tauhid
asma’ wa ash-shifat.Setelah dipahami makna dari syairnya, diharapkan kesenian Badeng lebih
dikenal luas dan patut untuk dibanggakan.
Kata Kunci: Kesenian, Badeng, Syair, Semiotika Sosial, Budaya, Bahasa.


Ketersediaan

K16504858 FAT m KPIPerpustakaan Fak. Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (skripsi)Tersedia

Informasi Detil

Judul Seri
-
No. Panggil
4858 FAT m KPI
Penerbit Fak. Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi : Jakarta.,
Deskripsi Fisik
97 hlm.
Bahasa
Indonesia
ISBN/ISSN
-
Klasifikasi
4858
Tipe Isi
-
Tipe Media
-
Tipe Pembawa
-
Edisi
-
Subyek
Info Detil Spesifik
-
Pernyataan Tanggungjawab

Versi lain/terkait

Tidak tersedia versi lain




Informasi


DETAIL CANTUMAN


Kembali ke sebelumnya