Detail Cantuman
Advanced Search
Text
Analisis Wacana Kematian Terduga Teroris Siyono Di Media Indonesia Dan Republika
Pada pertengahan 2016 lalu muncul peristiwa kematian terduga teroris
Siyono yang terjadi di Desa Pogung, Klaten. Kematian Siyono diduga karena ada
kesalahan dalam penanganan yang dilakukan oleh Densus 88. Siyono meninggal
pada saat dibawa ke tempat persembunyian senjata yang berlokasi di Prambanan.
Hasil visum menyatakan bahwa terdapat tanda-tanda kekerasan yang dialami oleh
Siyono sebelum meninggal dan hal tersebut menyeret anggota Densus 88 yang
bertugas saat itu. Peristiwa kematian Siyono akhirnya diwacanakan secara berbeda
di dua media nasional, dalam hal ini yaitu Media Indonesia dan Republika.
Pandangan yang berseberangan antara kedua media menjadikan ranah publik
sebagai arena pertarungan wacana.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka tujuan penelitian ini adalah
menjawab pertanyaan penelitian mengenai bagaimana media mewacanakan kasus
kematian terduga teroris Siyono.
Untuk menjawab pertanyaan penelitian, peneliti menggunakan teori
marjinalisasi dan analisis wacana kritis model Theo van Leeuwen. Terdapat empat
macam strategi marjinalisasi, yaitu penghalusan makna, pengasaran bahasa,
labelisasi dan stereotipe. Dalam wacana van Leeuwen, ia memusatkan perhatiannya
pada bagaimana aktor dimarjinalkan posisinya melalui proses eksklusi dan inklusi.
Beberapa teori pendukung seperti ideologi media juga peneliti gunakan untuk
memberikan analisis yang lebih mendalam mengenai wacana di bidang media.
Penelitian ini menggunakan metodologi paradigma kritis dengan
pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif yang dilakukan oleh peneliti adalah
menganalisis data dengan mengumpulkan data yang berhubungan dan
mengonfirmasi hasil temuan dengan wawancara dengan pihak-pihak terkait.
Dalam pemberitaan tentang kematian terduga teroris Siyono, media
indonesia mewacanakan kasus ini dengan memarjinalkan posisi Siyono dengan
begitu maka Media Indonesia terlihat cenderung melindungi pihak kepolisian.
Sedangkan Republika mewacanakan kasus ini dengan memposisikan Siyono
sebagai korban pelanggaran HAM dan dibela oleh tim advokasi yang dibentuk oleh
PP Muhammadiyah. Keberpihakan media sangat ditentukan oleh ideologi yang
dianut oleh media. Jika dilihat dari struktur kekuasaan, Media Indonesia memiliki
kecenderungan melindungi pemerintah karena pemilik medianya adalah seorang
pemimpin partai politik yang berkoalisi dengan pemerintah yang berkuasa.
Sedangkan Republika menyuarakan tim advokasi karena ada Muhammadiyah di
dalamnya. Pada dasarnya setiap media melakukan upaya hegemoni tidak terkecuali
Media Indonesia dan Republika. Penerimaan publik atas wacana yang
dikembangkan oleh industri media adalah tujuan dari setiap media.
Kata kunci: Wacana, Media Indonesia, Republika, Siyono, Muhammadiyah,
Objektifitas
Ketersediaan
| J469 | 4808 ANI a JURN | Perpustakaan Fak. Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (skripsi) | Tersedia |
Informasi Detil
| Judul Seri |
-
|
|---|---|
| No. Panggil |
4808 ANI a JURN
|
| Penerbit | Fak.Ilmu Dakwh Dan Ilmu Komunikasi : Jakarta., 1438 H/2017M |
| Deskripsi Fisik |
96 hlm.
|
| Bahasa |
Indonesia
|
| ISBN/ISSN |
-
|
| Klasifikasi |
4808
|
| Tipe Isi |
-
|
| Tipe Media |
-
|
|---|---|
| Tipe Pembawa |
-
|
| Edisi |
-
|
| Subyek | |
| Info Detil Spesifik |
-
|
| Pernyataan Tanggungjawab |
-
|
Versi lain/terkait
Tidak tersedia versi lain






