Detail Cantuman
Advanced Search
Text
Makna Tradisi Budaya Pacoa Jara' Dalam Foto:analisis sembiotika terhadap foto karya romi perbawa berjudul the riders of destiny pada ajang pameran the jakarta international photo summir tahun 2014
Fotografi hadir sebagai media rekam dua dimensi beku yang paling akurat
untuk merepresentasikan realita. Sejak foto cetakan pertama pada tahun 1826
hingga tahun 2015 ini, fotografi masih ampuh digunakan untuk merekam berbagai
peristiwa, termasuk di dalamnya tentang kebudayaan. Adalah Romi Perbawa,
seorang fotografer yang berlatar belakang sebagai pengusaha, merekam kehidupan
para penunggang kuda cilik dalam menjalankan adat istiadat kebudayaan
masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB), Pacoa Jara. Para penunggang kuda cilik
atau juki jara cilik biasanya harus mengorbankan waktu bermain dan belajar
mereka di sekolah kurang lebih 100 hari dalam setahun. Tidak hanya itu, pacuan
kuda yang minim perlekapan pengamanan ini juga tidak jarang mencelakakan
para juki jara, bahkan hingga merengut nyawa mereka.
Dengan latar belakang di atas, timbul pertanyaan tentang bagaimana
kehidupan para juki jara cilik dalam menjalankan keseharian dan adat istiadat
pacoa jara melalui foto Romi Perbawa? Apa kandungan pesan denotasi dan
konotasi yang ingin Romi Perbawa sampaikan dalam foto-fotonya? Adakah
kadungan pesan mitos dalam foto-foto tersebut?
Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivis dengan pendekatan
kualitatif. Sedangkan metode analisis yang digunakan adalah semiotika yang
dikembangkan oleh Roland Barthes. Metode analisis ini menekan pada
pemaknaan tanda-tanda yang timbul dari suatu karya(dalam hal ini karya
fotografi) dengan tiga tahap, yaitu denotasi, konotasi, dan mitos yang ditafsirkan
atau dimaknai sendiri oleh peneliti yang tentu dengan latar belakang
kemampuannya, tanpa mencari suatu kebenaran yang mutlak.
Dari penelitian ini dapat dilihat secara pesan denotasi tentang kehidupan
para juki jara cilik dalam menjalankan adat istiadat pacoa jara, di mana
tergambarkan kesenangan mereka saat bermain, cepatnya laju kehidupan yang
mereka jalani, dan terlihat pula pengorbanan dan penderitaan yang harus mereka
hadapi. Jika menurut Barthes, pembuat dalam hal ini fotografer telah tiada setelah
karyanya jadi, maka jelas bahwa makna konotasi akan muncul jika orang yang
melihat foto melibatkan pikiran dan perasaannya ke dalam foto-foto tersebut.
Pesan konotasi yang terkandung dalam foto-foto Romi Perbawa jelas sangat
muram jika dilihat secara keseluruhan, salah satunya terlihat dari pemilihan warna
hitam putih dengan grain yang banyak, membuat foto terlihat begitu kasar, seperti
kerasnya hidup yang dihadapi para penunggang takdir tersebut. Selanjutnya dalam
tahap mitos foto-foto Romi Perbawa menunjukkan berbagai mitos, salah satunya
mitos lokal mengenai gambaran kuda dari pandangan masyarakat NTB yang
hidup dalam lingkaran kebudayaan pacoa jara.
Kata Kunci: Semiotika, Pacoa Jara, Joki Cilik, Fotografi, Pesan
Ketersediaan
| J400 | 4415 HAN m JURN | Perpustakaan Fak. Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (skripsi) | Tersedia |
Informasi Detil
| Judul Seri |
-
|
|---|---|
| No. Panggil |
4415 HAN m JURN
|
| Penerbit | Fak.Dakwah Komunikasi dan Penyiaran : Jakarta., 1436 |
| Deskripsi Fisik |
95 hlm.
|
| Bahasa |
Indonesia
|
| ISBN/ISSN |
-
|
| Klasifikasi |
4415
|
| Tipe Isi |
-
|
| Tipe Media |
-
|
|---|---|
| Tipe Pembawa |
-
|
| Edisi |
-
|
| Subyek | |
| Info Detil Spesifik |
-
|
| Pernyataan Tanggungjawab |
-
|
Versi lain/terkait
Tidak tersedia versi lain






