Image of Antitesis Teori Pers Pancasila dan Tujuh Teori Pers

Text

Antitesis Teori Pers Pancasila dan Tujuh Teori Pers



emangat dan euphoria reformasi 1998/1999 ternyata mengubah banyak hal, termasuk
mengubah kehidupan pers nasional. Teori Pers Pancasila yang lahir di atas "reruntuhan" dua
sistem pers sebelumnya yaitu Pers Merdeka (1945 - 1959) dan Pers Terpimpin (1959-1966),
mengalami antitesis dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers (23
September 1999), menggantikan Undang-Undang Pers 1982. UU-Pers 1999 itu, menghilangkan
substansi Pancasila dan tanggung jawab pers, serta menghapus peran strategis negara dalam
kehidupan pers nasional. Padahal Indonesia adalah Negara Kesejahteraan yang wajib melindungi
segenap bangsa Indonesia dari ketidakadilan dan dari penyalagunaan kebebasan pers.
Rancangan Undang-Undang Pers 1999, yang dibahas di DPR sekitar 10 hari kerja (20 Agustus-
13 September 1999), rupanya mengacu pada teori Pers Libertarian era Thomas Jefferson abad ke-18
di Amerika Serikat. Padahal teori Pers Libertarian itu mengandung kebebasan negatif (negative
freedom), sehingga Komisi Kebebasan Pers Amerika Serikat melahirkan teori baru, yang
mengandung kebebasan positif (positive freedom). yaitu: teori Pers Tanggung Jawab Sosial (1947).
Tahun 1980-an lahir lagi teori Pers Demokratik Partisipan. Kedua teori itu merupakan salah satu
versi sintesis antara teori Pers Otoritarian dan/atau teori Pers Soviet-Komunis dengan teori Pers
Libertarian. Sintesis versi abad ke 20 lainnya, adalah teori Pers Pembangunan dan teori Pers
Pancasila.
Sebagai kajian ilmiah, buku ini memaparkan dinamika dan perkembangan tujuh teori pers
tersebut yang diwarnai dengan tesis, antitesis, dan sintesis, serta pengembangan teori, sesuai filsafat
politik, iklim intelektual, dan semangat zamannya. Sebab itu sistem dan teori pers tidak bebas nilai
dan bahkan sangat terikat oleh sejarah, ideologi, dan budaya suatu bangsa, Teori Pers Pancasila
tumbuh dan berkembang berdasarkan ideologi Pancasila, UUD 1945, dan UU-Pers 1982.
Buku ini menyajikan juga "suasana kebatinan" dan latar belakang terjadinya Antitesis Teori Pers
Pancasila, yang membawa pers nasional "tergelincir" jauh dari cita-cita kemerdekaan (adil-
makmur), dan justru "mundur" ke masa silam Indonesia yaitu: masa revolusi (1945 1950) dan
masa Demokrasi Liberal (1950 - 1959). Pada masa itu dipraktikkan teori Pers Libertarian dengan
sebutan Pers Merdeka yang kemudian melahirkan antitesis Pers Terpimpin pada masa Demokrasi
Terpimpin (1959 1966). Sistensis antara Pers Merdeka dengan Pers Terpimpin yang gagal itu,
melahirkan Pers Pancasila.
Buku ke 52 yang ditulis oleh Anwar Arifin AndiPate ini dihadirkan untuk memenuhi kebutuhan
dosen, mahasiswa, dan peminat lainnya, disamping untuk mengisi khazanah ilmu pengetahuan.


Ketersediaan

02227201323.4 ANW a C.1Perpustakaan Fak. Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (022)Tersedia

Informasi Detil

Judul Seri
--
No. Panggil
323.4 ANW a
Penerbit PUSTAKA INDONESIA JAKARTA : Jakarta.,
Deskripsi Fisik
xiv, 204 hlm,; 16x23,5 cm
Bahasa
Indonesia
ISBN/ISSN
978-979-1251-13-6
Klasifikasi
323.4
Tipe Isi
-
Tipe Media
-
Tipe Pembawa
-
Edisi
-
Subyek
Info Detil Spesifik
-
Pernyataan Tanggungjawab

Versi lain/terkait

Tidak tersedia versi lain




Informasi


DETAIL CANTUMAN


Kembali ke sebelumnya